PDA

View Full Version : Kuliner Khas Lebaran di Setu Babakan



strauss1988
27-10-2011, 06:32 PM
Malam itu, orang-orang menatap televisi, menantikan pengumuman pemerintah, apakah Idul Fitri 1432 Hijriah jatuh pada hari Selasa atau Rabu. Terdengar suara motor menderu di depan rumah. Mus, seorang kenalan asli Betawi, mampir sambil membawa rantang.

Di dalam rantang, tampak aneka lauk seperti semur dan seikat ketupat. Semuanya begitu menggiurkan. Ia memang telah berjanji untuk membawa tape uli. Namun, ia malah membawa rantang berisi lauk-pauk khas Lebaran.

“Kalau orang Betawi biasa mampir bawa rantang ke kerabat sehari sebelum Lebaran. Ini masih nunggu juga keputusan pemerintah. Tapi, biarin deh, nganter-nya hari ini aja,” tuturnya. Ya, memang pada akhirnya Idul Fitri 1432 H jatuh pada hari Rabu.

Mus bukanlah satu-satunya warga Betawi yang sudah siap dengan aneka hidangan menyambut Lebaran. Tak jauh dari rumah Mus, warga Setu Babakan sudah jauh-jauh hari menyiapkan aneka kuliner khas Lebaran.

Setu Babakan berlokasi di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kawasan ini dikenal sebagai kampung Betawi dan telah menjadi obyek wisata yang unik. Sebenarnya, obyek wisata ini merupakan cagar budaya Betawi. Jika Anda berkunjung menjelang Lebaran, aneka kegiatan memasak khas Lebaran bisa Anda lihat secara langsung.

Nah, kalau menyangkut kuliner, Setu Babakan paling dikenal dengan dodol betawi dan bir pletok. Banyak wisatawan jauh-jauh datang ke Setu Babakan hanya untuk bisa menikmati kedua hidangan tersebut. Beberapa tahun lalu, di kala menjelang Lebaran, saya pun mampir untuk mencicipi sepotong dodol betawi dan segelas bir pletok dingin.

Dodol betawi tak terlalu sering ada, biasanya muncul saat Lebaran atau berdasarkan pesanan. Dodol betawi Setu Babakan terkenal karena pembuatnya tinggal di daerah ini. Dalam beberapa kesempatan, wisatawan bisa menonton langsung cara pembuatan dodol betawi. Belum lagi pembuat dodol betawi saat ini sudah langka.

Dodol betawi Setu Babakan dikenal dengan sebutan Dodol Mpok May. Disebut demikian karena pembuatnya adalah almarhumah Mpok May. Setelah beliau wafat, usaha dodol betawi diteruskan oleh anaknya, Mpok Juanti.

Proses pembuatan dodol betawi sangat rumit dan memakan waktu lama. Oleh karena itu, Mpok Juanti hanya membuat dodol betawi saat ada pesanan saja. Untuk bisa melihat langsung pembuatan dodol, harus menunggu sampai ada pesanan. Cara lainnya adalah datang menjelang Lebaran. Namun, sering kali acara kesenian Betawi di Setu Babakan menampilkan demonstrasi pembuatan dodol.

Bahan-bahan dodol Betawi terdiri dari ketan putih, gula merah, gula pasir, dan santan. Bahan-bahan ini kemudian diadonin alias dicampur. Lalu, adonan pun dimasak menggunakan kayu bakar.

Bahan yang masih encer ini kemudian diaduk perlahan di atas kenceng atau kuali besar berdiameter kira-kira 1 meter. Pada tahap ini, pengadukan biasa dilakukan oleh perempuan. Namun, beberapa jam kemudian, lelaki akan mengambil alih proses pengadukan.

“Harus laki-laki, soalnya dodolnya udah makin lengket, jadi kalau diaduk, makin berat. Saya aja kalau ngaduk harus pasang kuda-kuda kayak lagi pencak silat. Harus bertenaga, kalau gak, bisa-bisa saya yang nyemplung ke dalam kenceng,” sahut Subur, suami Mpok Juanti, yang juga ikut membantu usaha Dodol Mpok May ini.

Pengadukan ini memang proses yang melelahkan karena harus terus-menerus diaduk. Bayangkan, proses pengadukan memakan waktu 8 jam! Soal rasa, sudah pasti jaminan mutu. Karena tidak mengandung bahan-bahan kimiawi, dodol ini terasa legit dan enak. Rasa manisnya juga pas.

Selain itu, Dodol Mpok May bisa tahan sampai satu bulan karena dimasak sampai benar-benar matang. Apalagi dimasak dengan menggunakan kayu bakar, rasa dodol sangat berbeda. Mpok Juanti pernah memberikan dodol yang dibuat dengan kompor gas. Rasa manis dan kekenyalannya tidak seenak seperti dodol yang dimasak dengan kayu bakar.

Konon, pembuatan dodol betawi juga tidak sembarangan. Subur menuturkan, tradisi menyebutkan, jika sedang memasak dodol, jangan sampai ada pengantin yang lewat. Pantangan lainnya adalah iring-iringan jenazah juga tidak boleh lewat di tempat pembuatan dodol. Boleh percaya atau tidak, bila hal ini dilanggar, dodol yang sedang dimasak tidak mau memadat.

Adapun bir pletok di Setu Babakan dibuat oleh Mpok Yanti. Walaupun namanya bir, minuman satu ini sama sekali tidak memabukkan, malah dapat menyehatkan badan. Ceritanya, saat zaman penjajahan Belanda, orang-orang “Kompeni” senang sekali minum bir.

Alasannya supaya menghangatkan badan, tetapi kalau diminum terlalu banyak bisa-bisa jadi mabuk. Orang Betawi pun tidak mau kalah. Mereka akhirnya membuat sendiri bir versi Betawi yang halal. Bir versi Betawi ini pun terbuat dari sari jahe, gula, sari bunga selasih, dan akar-akaran. Namun, bir punya orang Belanda itu berwarna merah. Ide kreatif pun muncul, orang Betawi mencampurkan bubuk kayu secang supaya bir versi Betawi ini berubah merah.

Selain dihidangkan panas, bir versi Betawi ini juga berkembang menjadi minuman dingin. Caranya, dengan memasukkan es batu ke dalam botol berisi bir versi Betawi, lalu dikocok-kocok. Botol pun berbunyi “pletok... pletok... pletok...”. Dari bunyi inilah kemudian bir versi Betawi dikenal dengan nama bir pletok.

Mpok Yanti membuat bir pletok masih dengan cara sederhana dan menggunakan bahan-bahan alami seperti resep terdahulu. Hanya saja, Mpok Yanti mengaku kesusahan mencari botol yang menjadi kemasan.

“Kalau beli di lapak, botolnya kan kotor-kotor semua. Jadi, saya harus keliling rumah untuk cari botol yang masih bagus. Kalau persediaan botolnya sedikit, saya gak produksi,” keluh Mpok Yanti.

Jika Anda ingin mencoba bir pletok, bersiaplah untuk kepanasan. Sebab, saat bir pletok pertama kali menyentuh lidah, rasanya sangat pedas! Namun, lama-kelamaan badan terasa hangat dan lidah juga jadi terbiasa dengan sensasi pedas dari sari jahe. Anda penasaran dengan bir pletok? Mampir saja ke Setu Babakan dan tanyakan kepada warga setempat di mana rumah Mpok Yanti. Namun, Anda juga bisa membelinya di beberapa warung di kawasan Setu Babakan.

Hidangan khas lainnya adalah tape uli. Tape uli ibarat kue Lebaran wajib bagi warga Betawi. Di Setu Babakan, beberapa hari menjelang Lebaran, beberapa rumah sudah sibuk membuat tape uli. Tape terbuat dari ketan hitam yang difermentasikan. Sementara uli terbuat dari ketan putih dan kelapa. Hasilnya? Uli gurih yang kenyal seperti dodol dicolek ke tape yang manis.

Mau mencoba sesuatu yang berbeda? Coba padukan uli dan dodol betawi. Potong uli berbentuk memanjang. Tentukan ketebalan yang Anda inginkan. Lalu, potong dodol betawi dengan panjang dan ketebalan yang sama. Tumpuk keduanya hingga seperti kue lapis. Nah, coba gigit dan nikmati kolaborasi rasa antara uli dan dodol. Tekstur kenyal yang sama, tetapi paduan rasa gurih dari uli dan legit dari dodol yang unik.

Masih banyak kuliner khas Lebaran lainnya yang bisa Anda jumpai di Setu Babakan. Sebut saja kue kembang goyang, ketupat betawi, dan rengginang. Lebaran memang tak akan pernah bisa lepas dari kuliner. Sebuah tradisi yang telah lekat di warga Betawi dan masyarakat Indonesia secara turun-temurun./b-victory

vigaki
01-11-2011, 01:29 PM
hehe lebaran udh lewat lama gan... tapi asyik juga itu... enak kayanya