PDA

View Full Version : Dikotomi Selera 'Gedongan vs Kampungan', Warisan Jurnalisme Musik di Indonesia



lagu456
16-02-2019, 11:19 PM
Penulis musik Idhar Resmadi berbagi cuplikan buku terbarunya, mengulas peran jurnalisme sebagai penggerak industri musik di Tanah Air. Jejak Majalah Diskorina sampai Hai dalam budaya pop kita dikupas tuntas.
"Jikalau dikatakan jurnalisme musik di Indonesia itu mati, sebenarnya tidak juga. Jurnalisme musik dalam pengertian menulis dan memberikan informasi mengenai musik dan peristiwa di sekitarnya, masih hadir menemani keseharian kita." — Idhar Resmadi (2018).

*Catatan Redaksi VICE:

Sebuah buku dengan tema langka terbit akhir 2018. Buku yang fokus membahas musik (https://lagu69.org/), ditulis orang Indonesia sendiri, jumlahnya cukup minim di Tanah Air. Lebih-lebih bila tema yang diangkat adalah sejarah jurnalisme musik dj (https://lagu69.co/search/dj) Indonesia—tak ada yang pernah menerbitkan naskah macam itu jadi buku dikemas populer. Kecuali yang tersimpan rapi di rak perpustakaan sebagai naskah akademis dan kecil kemungkinannya dapat menjumpai pembaca awam.

Idhar Resmadi menempuh jalan sunyi, menghadirkan buku yang langka tersebut, nukilannya bisa kalian baca di bawah. Karya ini diberi tajuk Jurnalisme Musik Dan Selingkar Wilayahnya, membahas secara tuntas berbagai kiprah media musik, peran kritikus, hubungan timbal-balik antara media dan industri musik, serta dampak kehadiran jurnalisme macam itu terhadap budaya populer di Tanah Air. Arsip yang ia kumpulkan merentang sejak era sebelum kemerdekaan.

Idhar, mantan jurnalis Trax dan bertahun-tahun mengelola majalah legendaris Ripple, dalam 197 halaman buku ini telaten menjabarkan tak hanya sejarah, namun sekalian berbagai pernak-pernik jurnalisme musik yang berkembang di Indonesia. Jurnalisme Gonzo—ciri khas liputan Rolling Stone—yang mempengaruhi banyak liputan musik Indonesia, disinggung pula oleh Idhar dalam satu bab khusus.

Untuk perkara sejarah, arsipnya lumayan komprehensif, kendati masih terbuka kemungkinan untuk dilengkapi. Ia memulainya dari majalah musik Caesillia yang terbit di Kota Malang, di masa Hindia Belanda, berlanjut ke Diskorina yang terbit di Yogyakarta pada 1961, hingga akhirnya mencakup raksasa klasik macam Aktuil yang disebut Idhar sukses "membentuk opini dan selera massa, terutama jika berbicara tentang gudang lagu (https://gudanglagu456.com/) musik rock" bagi anak muda kelas menengah Indonesia era 1970-an.
Buku ini kemudian menukik ke abad kiwari, ketika kekuasaan jurnalisme cetak nyaris berakhir. Idhar mengajukan beberapa tesis optimis, tentang semangat macam apa yang membuat apresiasi musik dalam balutan jurnalisme tidak akan mati, sekalipun mayoritas media massa beralih ke format digital.

Dari berbagai pembahasan tersebut, satu anak bab menarik perhatian redaksi VICE. Bagian yang dimaksud mengulas warisan bias kelas akibat framing media ketika memandang selera musik di negara ini. Khususnya, diskriminasi berlebihan yang diterima dangdut ataupun musik pop (https://gsense.org/) melayu. Warisan tersebut, jika kita lacak, terus bertahan sampai era media sosial. Contohnya berbagai sentimen anak yang mengklaim punya selera "indie", ketika mencibir musik yang dirasa punya derajat lebih rendah. Komentar itu terpacak di kolom komentar Youtube macam: "yang dislike pasti penggemar dangdut koplo/young lex/dll".

Dikotomi itu berhasil diuraikan oleh Idhar, sampai ke akarnya stafaband (https://stafa456.com/) . Idhar dengan cukup berani menempatkan Aktuil sebagai salah satu tersangka utama yang mengusung bias kelas menengah perkotaan saat mengulas musik (atau dibahasakan sebagai selera 'gedongan'). Rock, bagi Aktuil, adalah musik terbaik dan genre lain hanyalah catatan pelengkap. Selera gedongan itu kemudian dipertentangkan sebagai "yang lebih keren" dibanding musik melayu (Aktuil juga yang pertama menujulukinya sebagai dangdut) serta penggemarnya yang dikotakkan sepihak sebagai 'kampungan'. Diskriminasi ini tadinya berdiam di lembaran majalah, meluber jadi sengketa terbuka. Khususnya saat Benny Soebardja—gitaris band rock Bandung Giant Step—menjuluki dangdut sebagai musik *** anjing dan memicu balasan sengit dari Raden Haji Oma Irama.